Cheerz’s Weblog

Drakula yg Tak Menghisap Darah

Posted on: October 19, 2007

Di kota kecil Meridian, California, matahari mulai tenggelam. Dengan penuh kegembiraan, Jaime (5) dan adik perempuannya, Sherry (3), berlarian ke luar rumah. Mereka naik sepeda, berkeliling kota yang mulai “tidur”.

Disamping pasar swalayan, tempat mesin meinuman Cola berada, tampaknya ada bahaya. Cahaya lampu jalanan di pojokan begitu terang. Namun tak usah khawatir, Kim dan Jim Harrison selalu mendampingi anak2 itu dan menjaganya dari cahaya yang menyilaukan.

Di tengah cahaya lampu minyak yang temaram, Kim, sang ibu, menggelar makanan piknik : hamburger, kentang goreng, dan minuman ringan. Tawa gadis-gadis cilik itu memecah kesunyian malam.

Memang tidak ada jalan lain, kalau mereka terpaksa hidup di malam hari. Karena, bocah2 ini menderita penyakit tidak tahan sinar matahari. Penyakit langka yang mematikan : Xeroderma pigmentosum. Penderitanya terancam kanker mata dan kulit, bila sampai sedikit saja terkena sinar ultraviolet.

Lampu pun harus padam

Sejak diagnosis dokter, Jaime dan Sherry hidup dalam keremangan. Siang hari, rumah besar keluarga Harrison dalam suasana temaram. Tirai tebal di jendela menghalangi masuknya sinar matahari. Lampu juga jarang dinyalakan. Apabila pintu keluar dibuka, Kim menghalau anak2nya ke ruangan yang lain.

Jika anak2 terpaksa harus berada di bawah sinar matahari, untuk ke dokter misalnya, tubuh mereka harus diolesi krim-antimatahari sebanyak2nya, biarpun saat itu musim dingin. Di musim panas, perlindungannya lebih2 lagi, Mantel berkerah tinggi, celana panjang, dan topi. Kacamata dengan filter penyaring sinar ultraviolet dipasang untuk melindungi mata. Jendela minibus keluarga itu juga ditutup dengan lapisan pelindung.

Kena infeksi baku

Dari luar, Jaime dan Sherry tidak kelihatan sakit. Cuma suara mereka tidak jelas. Kemungkinan pada gangguan sel saraf tertentu dan pusat saraf. Gejala itu mirip orang tuli atau cacat mental. Itu semua diderita oleh 20% penderita XP. Penyakit yang amat langka ini muncul jika kedua orang tua memiliki gen khusus bawaan.

Ketika Kim dan Jim Harrison menikah, mereka tidak menyadari adanya gen bawaan yang berbahaya itu. Tanda2 baru kelihatan ketika berlibur ke Montana. Jaime, waktu itu berumur 2 bulan, menangis dan mengamuk kalau dibawa kealam terbuka. “Setiap difoto, anak itu selalu mengedipkan matanya,” kata sang Ibu. Anak itu seperti menderita luka bakar dan bengkak2. Dokter menemukan bercak di kulit dan memberikan kortison untuk obatnya. Kemudian anak itu terkena infeksi bakteri. “Kami tidak tahu kalau itu ada hubungannya dengan sinar matahari. Soalnya, gejalanya baru kelihatan setelah satu atau dua hari kemudian,” kata Kim Harrison.

Sedangkan selama musim gugur dan musim dingin, dimana bayi tinggal di dalam rumah atau dibungkus dengan pakaian tebal dan hangat, tidak terjadi apa2. Baru pada musim semi, gejala penyakit mulai tampak lagi, malah makin nyata. Pulang dari dari berkemah selama seminggu, wajah Jaime memerah. Malamnya ia terbangun. Tubuhnya panas sampai 40 derajat Celcius dan bengkak2. kulit di mulutnya pecah dan berdarah kalau dia menyeringai. Para dokter bingung. Akhirnya dari tes jaringan didapat diagnosis yang mengerikan Xeroderma pigmentosum. Jaime akan meninggal akibat malignant melanoma, sejenis kanker kulit yang ganas.

Dunia seperti runtuh

Dengan segan, keluarga Harrison juga memeriksakan Sherry. Sherry waktu itu baru berusia tiga bulan dan kelihatan sehat benar. Namun, dengan berat hati dokter memberitahu, Sherry juga menderita XP!

Walau kedua gadis cilik tersebut belum terkena kanker, tapi penyakit mereka itu tetap belum terpecahkan. Namun baru2 ini Jaime melanggar larangan. “Gelap, gelap!” teriaknya pada suatu sore yang bermandikan cahaya matahari. Ia lari ke pintu.

Jim Harrison berkata, bahwa kutukan genetic yang membuat gadis2 cilik itu menderita, sering kali membuat mereka marah. Istrinya berhenti mencari mengapa bencana itu menimpa keluarganya. Cuma, mereka kadang2 merasa tak berdaya atas beban itu. Tetapi, jika anak2 itu memperlihatkan sikap yang lucu, memeluk ayah dan ibu sambil berkata bahwa kedua anank itu mencintai mereka, beban mereka terasa lebih ringan. “Jaime dan Sherry dikirim ke dunia memang untuk memperoleh kegembiraan,” kata sang Ibu.

2 Responses to "Drakula yg Tak Menghisap Darah"

Wah.. Kasian juga ya kalo ga bisa ngrasain cahaya. Ada ga yang hidupnya cuma bisa kalo siang??

buset dew blog lu isinya serem juga..!!!!
dah kaya blog horor aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 52,094 hits
%d bloggers like this: